Dari Diary Hingga Blog
Jaman sudah berganti, dulu… sewaktu masa saya duduk di bangku sekolah MTsN ( setara dengan SLTP ), saya sering mendapat diary dari teman-teman, mereka meminta untuk menuliskan sedikit tanggapan mengenai diri sang pemilik diary, hal itu saya temui d saat kenaikan kelas, sekedar kenang-kenangan lha istilahnya :p nah… sekarang ini waktu sudah berlalu, walaupun masih ada yang menggunakan diary namun sekarang ini segelintir orang sudah mulai bermigrasi ke blog, ada banyak cerita di masing-masing blog para blogger ( sebutan pengguna blog ).
Bagi saya pribadi, blog merupakan tempat untuk menuliskan segala kegiatan sehari-hari, namun, saya lebih menjurus ke tempat menuliskan dokumentasi tentang apa yang sudah saya kerjakan, sekarang ini sudah banyak tutorial mengenai teknologi informasi yang tersebar di jagad maya ini, disini saya mengambil tutorial opensource sebagai contohnya, tidak bisa di pungkiri, produk opensource sekarang ini sedang marak di negara kita, namun berbagai artikel masih dalam bahasa inggris atau asing, yang tentunya sangat tidak bersahabat dengan masyarakat kecil, belum lagi mereka tidak dapat mengakses internet seperti yang kita nikmati sekarang ini.
Apakah produk opensource yang katanya lebih murah bisa dimiliki oleh masyarakat kecil? apakah masyarakat kecil bisa memiliki sebuah komputer dan akses internet? apakah itu hanya peranan atau tugas pemerintah saja? jawabannya ada pada diri anda masing-masing, saya sering membaca artikel di salah satu majalah khusus membahas tentang opensource di indonesia yaitu majalah Info Linux, rublik “Opini” merupakan bacaan pertama saya di saat membuka majalah tersebut, edisi 01/2008 dan 02/2008 sangat menarik bagi saya… tulisan dari om Michael S. Sunggiardi membuat saya mengangguk-angguk saat membacanya, hanya melihat kutipan tulisannya saja bisa membuat saya merasa tertarik untuk membacanya, ada pembahasan mengenai “Mengajar Blog di Sekolah” dan “Komunitas Open Source” ( anda dapat membacanya sendiri ), saya sangat setuju bila tradisi nge-blog di tanamkan sejak usia dini, mulai dari bangku sekolah tentunya… namun yang perlu di kutip adalah kebiasaan nge-blog jangan sampai menggangu aktivitas wajib para blogger tersebut, jangan sampai selagi kerja di isi dengan nge-blog saja ( beberapa perusahaan dan negara malah melarang aktivitas chat dan nge-blog di saat bekerja ) :))
Di tempat saya berasal ( Aceh ), aktivitas nge-blog sudah mulai naik ke permukaan, namun sangat sedikit sekali orang yang mau mendokumentasikan hal-hal yang berbau opensource, apakah mereka belum mengenal opensource? apakah mereka terlalu sibuk dengan rutinitas kerja? atau mereka merasa takut tersaingi? ( seperti tulisan “The Conscience of a Hacker” atau lebih di kenal dengan “Manifesto Hacker” yang di tulis oleh Loyd Blankenship a.k.a The Mentor pada tahun 1986 ) jawabannya kembali ke diri anda masing-masing, kegiatan seminar dan workshop sudah mulai timbul juga, adakah workshop mengenai teknologi disana ( Aceh )? selama saya disana hanya seminar tentang ekonomi, hukum dan lingkungan yang saya dapati, sangat berbeda sekali dengan lingkungan saya sekarang ini ( Bekasi ), apakah peranan KPLI di setiap daerah? tentunya memberikan atau menyediakan tempat untuk masyarakat di tiap daerah yang ingin menggunakan atau hanya sekedar mengenal opensource khususnya sistem operasi Linux, sudah berapa kali KPLI Aceh mengadakan aktifitas tersebut? ( saya tidak mengetahuinya secara pasti ), saya merupakan kaum kecil dari ujung pulau Sumatera yang menginjakkan kaki ke pulau Jawa hanya untuk mengenal lebih jauh tentang opensource, dan saya pun mengenal KPLI di daerah saya sendiri di saat online via internet, jadi saya bergabung di KPLI Aceh ini secara online dan mungkin nama saya tidak tercantum di daftar ke anggotaannya
jadi, saya tidak begitu mengerti dengan segala kegiatan yang sudah dilakukan ataupun tujuan didirikannya KPLI Aceh.
Itu merupakan sedikit cerita tentang awal mula saya mengenal rekan-rekan sesama anggota KPLI Aceh secara langsung dalam beberapa bulan belakangan ini, saat saya menghadiri acara buka puasa bersama di kala itu, hmmm… kira-kira seperti cerita sang gerilyawan kuba Che Guevara yang berjudul “Che Guevara and Cuban Revolution” atau “Dari Sierra Maesta Menuju Havana”
lha? koq malah ngawur ne ceritanya? :))
Berikut ini sedikit kutipan tulisan dari om Michael S. Sunggiardi :
” Kesulitan penerapan open source di Indonesia kemungkinan disebabkan terbatasnya orang pinter yang mau berbagi ilmu di komunitas. Biasanya, begitu ada personal yang menonjol dari komunitas, maka yang bersangkutan langsung masuk ke dunia bisnis dan pada saat yang bersamaan, kita sudah kehilangan satu nara sumber, karena sudah dipastikan yang bersangkutan tidak mau lagi berkiprah di dunia bebas, apalagi kalau bisnisnya berkaitan erat dengan teknologi yang dikuasainya. Sebetulnya, kejadian ini bukan hanya terjadi Indonesia saja, tetapi juga di negara lain atau negara yang sudah maju, hanya saja jumlah tenaga ahli yang masuk ke komunitas lebih banyak ketimbang yang keluar, sehingga suatu produk atau komunitas tersebut tidak merasa kehilangan, karena tetap berjalan seperti biasanya. ”
Kutipan tulisan di atas sangat menarik sekali bagi saya pribadi, karena hal itu memang benar adanya… semoga saja negara ini bisa lebih baik di masa yang akan datang, begitu pula dengan daerah Aceh…






This is default description text on Padangan Themes, of course you can change this text via you profile administration.
February 9th, 2008 at 11:32 pm
salam kenal jua dari seberang anda. Lupakan persengketaan, eratkan tali persaudaraan. terima kasih atas komen/ komentar anda di blog saya. walaupun berbeza bahasa, saya fikir kamu faham/ngerti sebahagian dari tulisan saya.
February 10th, 2008 at 1:38 am
Mengenai dokumentasi tentang `open source` melalui media blog, Kelihatannya akan lebih menarik bagi pembaca seperti saya kalau tulisan-tulisan mas Atoz didokumentasikan saja dalam bentuk PDF dengan font dan margin yang teratur.
Salam
February 10th, 2008 at 6:35 am
@ senyuman
salam kembali, kita hanya blogger...untuk apa mengurus urusan kenegaraan, sesama melayu haruslah cinta damai...terima kasih juga atas kunjungan'a...
@ Askari
salam mas kari, saya juga tertarik dengan dokumentasi berbentuk PDF, seperti e-book Debian yg mas tuliskan dan itu sangat bermanfaat untuk pengguna Debian, mungkin nanti saya akan mulai mencoba seperti yg mas katakan, terima kasih atas kunjungan'a mas
February 10th, 2008 at 11:17 am
Hai Mas Atoz,
ditunggu file-file pdfnya mas, atau gimana kalo debian-id pada mengumpulkan sebuah dokumentasi pdf khusus debian sesuai dengan aktifitas oprek dari masing-masing individu kemudian diupload di debian-id.org, keliatannya semua orang akan semakin tertarik dengan debian..
Dan citra bahwa debian susah, dll semuanya akan terjawab sudah dengan sebuah dokumentasi lengkap sehingga seluruh masalah oleh seorang pengguna debian dapat diselesaikan lewat debian-id.org.
Hal-hal kecil yang dituliskan kemudian didokumentasikan dengan sangat baik pasti akan menarik pengguna untuk menggunakan debian.
Tapi kelemahan orang Indonesia adalah rasa egois sebagaimana yang mas Atoz bahas pada tulisan di atas (…terbatasnya orang pinter yang mau berbagi ilmu di komunitas..-Red). Sehingga sebuah cita-cita kelompok layaknya panas-panas tahi ayam kemudian akan hilang dengan sendirinya tanpa jejak sama sekali.
Saya yakin dengan adanya dokumentasi lengkap di debian-id.org akan semakin menarik orang untuk berkunjung ke website tersebut. -ah cuma mimpi saya saja kali..
Maaf kepanjangan nulis comment-nya,
February 10th, 2008 at 3:25 pm
@ Askari
Hal ini sudah pernah saya bahas dengan salah satu member debian-id, saya sangat setuju dengan pendapat mas kari... namun untuk saat ini debian-id masih fokus dengan translasi Debian Reference, saya harap para member debian-id bisa turut memberikan sumbangan agar translasi’a selesai dalam waktu dekat ini, untuk dokumentasi dalam format PDF juga akan di lakukan berbarengan dengan translasi tersebut, kapan ya kita bisa conference bareng ?
February 15th, 2008 at 10:01 pm
[…] obrolan saya dengan mas kari pada tulisan Dari Diary Hingga Blog, maka agar mempermudah dalam melakukan dokumentasi baik distro Debian maupun distro lain, selain […]
February 15th, 2008 at 11:45 pm
[…] Dari Diary Hingga Blog […]